`Hidup positif dan bermakna bagi orang lain`man jadda wajada`man shabara zhafira`
Sabtu, 01 April 2017
Faktot-faktor/Komponen-komponen dalam Kegiatan Pendidikan
Faktor-faktor
Pendidikan
- Anak didik/Peserta didik
- Sifat dan hakekat : menggantungkan diri, membutuhkan pertolongan, dan bimbingan baik jasmani maupun rohani.
- Anak didik merupakan pribadi yang sedang berkembang
- Aktivitas anak dalam kegiatan pendidikan
- Motivasi anak dalam kegiatan pendidikan
Motivasi intrinsik : kesadaran dating dari diri sendiri
Motivasi ekstrinsik : diberi dorongan atau motivasi
Cara untuk menimbulkan motivasi ekstrinsik/intrinsik
Pendidik memperlakukan anak-anak didiknya
sebagai manusia yang berpribadi
Pendidik menggunakan berbagai metode dalam
melaksanakan kegiatan pendidikan
Pendidik senantiasa menggunakan bahasa yang
sesuai dengan tingkat pemahaman anak didik
Pendidik senantiasa memberikan bimbingan
kepada anak didiknya
Pendidik menguasai penguasaan yang luas dan
mantap terhadap bidang studi/materi yang diajarkan
Pendidik mempunyai kecintaan (kasih sayang)
yang besar kepada anak didiknya
2.
Pendidik
Karakteristik :
kematangan diri yang stabil
kematangan sosial yang stabil
kematangan profesional
Tanggung jawab : ia sadar akan tugasnya dan mau melaksanakan tugas
itu sebaik-baiknya agar tujuan pendidikan tercapai.
Kewibawaan pendidik :
Kewibawaan yang bersumber pada adanya
kelebihan yang di akui itu ada berbagai jenis :
Kelebihan karena perbedaan unur dan
pengalaman
Kelebihan karena adanya taraf pengetahuan
tertentu
Kelebihan karena adanya pelimpahan sesuatu
kepada orang yang dianggap memilikinya
3.
Tujuan dalam Pendidikan
Tujuan umum :
tujuan sempurna, tujuan akhir, tujuan bulat (sesuai kurikulum)
Tujuan-tujuan tidak sempurna :
tujuan-tujuan mengenai segi-segi kepribadian manusia tertentu yang hendak
dicapai dengan pendidikan (kursus)
Tujuan sementara : TK
Tujuan perantara : tujuan yang merupakan alat untuk mencapai
tujuan-tujuan lainnya (belajar bahasa)
Tujuan insidentil : suatu tujuan pendidikan yang akan dicapai dengan
menggunakan peristiwa-peristiwa yang bersifat insidentil (melakuakn upacara)
4.
Alat Pendidikan
Alat pendidikan adalah suatu perbuatan atau
situasi yang dengan sengaja diadakan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.
Macam-macam alat pendidikan :
Software (perbuatan pendidik) : nasehat,
teladan, larangan, pujian, dll.
Hardware (benda2 sebagai alat bantu) : meja, kursi, papan tulis, dll.
5.
Lingkungan Pendidikan
Menurut Ki Hajar Dewantara :
Lingkungan masyarakat
Lingkungan keluarga
Lingkungan sekolah
Lingkungan organisasi pemuda
Menurut Tri Pusat Pendidikan :
Lingkungan keluarga
Lingkungan sekolah
Lingkungan organisasi pemuda
Imam Syafi'i Usia 9 Tahun Hafal Al-Qur'an 30 Juz
Nama : Abu Abdullah bin Muhammad Idris (Imam Syafi'i)
TTL : Gaza, Palestina 150 H/767M-Wafat, Mesir, 204 H/20 Januari 820.
Tukisan:
1. Buku Ar-Risalah (Dasar-dasar Hukum)
2. Buku Al-Umm (Hukum Islam)
3. Buku Al-Musnad (Hadist Nabi)
4. Buku Ikhlilaf al-Hadist (Perbedaan tentang Hadist)
Motto : "ilmu itu nur, tak akan diberikan kepada yang berbuat maksiat"
Namanya lengkapnya Abu Abdullah bin Muhammad Idris bin Idris Asy-Syafi'i. Ayahnya wafat sewaktu ia masih dalam kandungan ibunya, Fatimah bin Abbas. kini para pengikut mazhab Syafi'i tersebar di India, Pakistan, Filipina, Irak, Malaysia, dan Indonesia. Kunci sukses beliau adalah rajin belajar, gemar membaca, dan menjauhi maksiat.
Sejak usia 3 tahun Imam Syafi'i belajar Al-Qur'an. Ia hafal 30 juz dalam usia 9 tahun. Di usia 10 tahun, ia dikirim ibunya ke Desa Banu Hudail untuk belajar sastra Arab. Setiap pagi ia membantu penduduk desa mengembalakan kambing. Dan malam harinya ia belajar. Ada banyak guru yang menjadi gurunya. Ia belajar hukum kepada Imam Muslim, Ilmu hadist kepada Imam Sufyan, serta Ilmu Al-Qur'an kepada Imam Ismail. Dalam usia 10 tahun ia talah hafal buku al-Muwatta' yang disusun Imam Malik. Dalam usia 15 tahun, Imam Syafi'i telah diangkat sebagai mufti (ahli hukum) di Makkah.
Dalam usia 24 tahun Imam Syafi'i melanjutkan pendidikannya ke Madinah menemui Imam Malik. "Apakah kamu sudah pernah membaca al-Muwatta?", tanya Imam Malik. Ia menjawab. "Alhamdulillah, saya sudah hafal seluruh isi buku yang Tuan tulis itu!" Sejak itu, ia langsung diangkat menjadi asisten Imam Malik. Tak lama kemudian, Imam Syafi'i melanjutkan pendidikannya ke Baghdad (Irak) dan belajar kepada Imam Abu Sufyan, sahabat Imam Hanafi.
Mendengar kekuasaan ilmu Imam Syafi'i, Gubernur MesirAbbas bin Musa mengundang ilmuwan ini untuk mengajar di negeri piramid itu. Di samping mengajar, ia menulis sejumlah buku dan buku itu tersebar ke seluruh dunia. sejak itulah menyebar pengikut mazhab Syafi'i ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. dalam usia 54, Imam Syafi'i berpulang ke rahmatullah dan ulama besar yang selalu hidup sederhana ini dimakamkan di pinggir kota Kairo. Meski ia hidup 54 tahun, tapi jasanya dan ketinggian ilmunya mengharumkan dunia islam sampai sekarang.
TTL : Gaza, Palestina 150 H/767M-Wafat, Mesir, 204 H/20 Januari 820.
Tukisan:
1. Buku Ar-Risalah (Dasar-dasar Hukum)
2. Buku Al-Umm (Hukum Islam)
3. Buku Al-Musnad (Hadist Nabi)
4. Buku Ikhlilaf al-Hadist (Perbedaan tentang Hadist)
Motto : "ilmu itu nur, tak akan diberikan kepada yang berbuat maksiat"
Namanya lengkapnya Abu Abdullah bin Muhammad Idris bin Idris Asy-Syafi'i. Ayahnya wafat sewaktu ia masih dalam kandungan ibunya, Fatimah bin Abbas. kini para pengikut mazhab Syafi'i tersebar di India, Pakistan, Filipina, Irak, Malaysia, dan Indonesia. Kunci sukses beliau adalah rajin belajar, gemar membaca, dan menjauhi maksiat.
Sejak usia 3 tahun Imam Syafi'i belajar Al-Qur'an. Ia hafal 30 juz dalam usia 9 tahun. Di usia 10 tahun, ia dikirim ibunya ke Desa Banu Hudail untuk belajar sastra Arab. Setiap pagi ia membantu penduduk desa mengembalakan kambing. Dan malam harinya ia belajar. Ada banyak guru yang menjadi gurunya. Ia belajar hukum kepada Imam Muslim, Ilmu hadist kepada Imam Sufyan, serta Ilmu Al-Qur'an kepada Imam Ismail. Dalam usia 10 tahun ia talah hafal buku al-Muwatta' yang disusun Imam Malik. Dalam usia 15 tahun, Imam Syafi'i telah diangkat sebagai mufti (ahli hukum) di Makkah.
Dalam usia 24 tahun Imam Syafi'i melanjutkan pendidikannya ke Madinah menemui Imam Malik. "Apakah kamu sudah pernah membaca al-Muwatta?", tanya Imam Malik. Ia menjawab. "Alhamdulillah, saya sudah hafal seluruh isi buku yang Tuan tulis itu!" Sejak itu, ia langsung diangkat menjadi asisten Imam Malik. Tak lama kemudian, Imam Syafi'i melanjutkan pendidikannya ke Baghdad (Irak) dan belajar kepada Imam Abu Sufyan, sahabat Imam Hanafi.
Mendengar kekuasaan ilmu Imam Syafi'i, Gubernur MesirAbbas bin Musa mengundang ilmuwan ini untuk mengajar di negeri piramid itu. Di samping mengajar, ia menulis sejumlah buku dan buku itu tersebar ke seluruh dunia. sejak itulah menyebar pengikut mazhab Syafi'i ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. dalam usia 54, Imam Syafi'i berpulang ke rahmatullah dan ulama besar yang selalu hidup sederhana ini dimakamkan di pinggir kota Kairo. Meski ia hidup 54 tahun, tapi jasanya dan ketinggian ilmunya mengharumkan dunia islam sampai sekarang.
Minggu, 15 Februari 2015
Modus Penipuan_Pura-Pura Kecopetan
Membedakan orang
yang benar-benar baik sama yang pura-pura baik itu susah-susah gampang apalagi
di kota besar seperti Jakarta ini. Tapi, orang yang benar-benar baik masih
banyak kok.
Sekarang ini
banyak orang yang tidak kita kenal pura-pura minta tolong dengan alasan
tertentu tapi ternyata itu adalah alasan dia untuk nipu kita. Itu juga yang
baru saja aku alami.
Jum’at, 13
Februari 2015
Sekitar jam 12.30
pas aku mau naik TJ di fly over Raden inten tiba-tiba ada Bapak2 yang manggil.
B : “Mbak, mau naik busway ya?”
A : “Iya, kenapa Pak?”
B : “ Saya boleh bareng ngga mbak? Saya tadi
habis kecopetan di 47(metromini), tas saya disilet. Didompet saya uang 750 rb. “
Sempet mikir dulu
karena isi kartuku tinggal Rp5000,00, mau top up uang didompet tinggal 30 rb
(belum tau kalo top up minimal 20 rb, aku pikir min 50 rb). Yaudah akhirnya aku
ajak Bapak itu bareng aja, kasian juga
karena mukanya bingung gitu. Selesai top up, pas lagi jalan ke tempat
nunggu TJnya bapak itu minta no hpku.
B : “mbak, no hpnya berapa? Nanti saya
ganti”
A : (sambil jalan) “buat apa pak no
hpnya? Ngga usah diganti Pak.”
Bapak itu nanyain
lagi no hpku, yaudah akhirnya aku kasih mungkin mau silaturahim atau mau
ngucapin terima kasih lewat sms. Nah pas udah aku kasih Bapak itu misscall (mungkin
biar no nya aku save kali ya, haha). Bapak itu juga cerita kalo dia baru
selesai rapat di suatu daerah (lupa nama tempatnya), dia kerja di Telkom***
bagian supervisor dan bapak itu mau pulang ke Cengkareng. Oiya copetnya itu ada
5 orang, katanya.
Bapak itu masih
ngikutin aku terus sampe tempat duduk
halte sambil cerita-cerita kejadian tadi.
B : “Tadi tas saya disilet mbak, dompet
saya diambil” (sambil nunjukin tasnya)
A :”Kok lubangnya kecil Pak?” (sambil
ngeliat bekas siletannya)
B : “Iya, tadi dompetnya di saku.”
A :”Ohhh” *agak curiga, trus apa
hubungannya tas yang disilet sama uang yang di saku?
B : “Boleh minjem uangnya ngga? Nanti saya
ganti. Nanti setelah naik busway saya naik angkot lagi.
A :”ongkosnya berapa Pak?”
B : 50 rb.
A : (dlm hati mahal amat). “wahh, ngga
ada Pak. Emang berapa kali naik angkot Pak?”
B : “Kalau 30 rb ada ngga?”
A : “Ngga ada Pak, Uang saya tinggal 10 rb
(sambil nyari-nyari uang lagi mungkin ada yang keselip. Emang bapak naik angkot berapa kali?”
Bapak itu masih ngga jawab berapa kali dia naik angkot dan Tj pun datang………….
B : “Yaudah mbak 10 rb ngga apa2”
Akupun langsung
ngasih uang 10 rb itu ke bapaknya, uang sisa satu-satunya di dompetku. Akhirnya
aku dan bapak itu pun naik Tj, bapaknya lewat pintu belakang, aku lewat pintu depan.
Selama perjalanan aku merasa bersalah banget karena ngga bisa bantu bapak itu
semaksimal mungkin……
Jam setengah 2an
aku sampe rumah, sesampainya di rumah aku sms bapak itu inti sms itu aku minta
maaf karena cuma bisa bantu segitu aja karena uang yang aku bawa emang tinggal
segitu. Ternyata pas aku send ngga terkirim, aku coba lagi masih belum terkirim
lagi, mungkin hpnya lowbat, pikirku.
Malemnya aku coba
sms lagi dan ternyata masih belum terkirim juga, aku udah mulai curiga….. masa
lowbat lama banget.
Hari sabtu pagi
aku coba searching digoogle dengan keyword penipuan dengan modus kecopetan dan
hasilnyaaaa………………. AKU TERTIPU..HUHU. alhamdulillahnya aku cuma bawa uang
sedikit jadi ketipunya juga sedikit (ongkos TJ 3500 + 10.000, jadi Cuma 13.500)
Ternyata sudah
banyak korbannya, modusnya juga hampir sama baca disini. Pelaku dari penipuan
ini kebanyakan orang yang sudah tua, sebelumnya aku juga pernah ketemu ibu2 di
depan BNI UNJ, dia minta bantuan uang untuk biaya nebus obat suaminya di RS Cipto,
uang yang dia bawa kurang. Karena uang yang dia minta ke aku banyak sekitar 130
rb kalo ngga salah dan kebetulan aku juga ngga bawa uang segitu, jadi ngga aku
kasih, mintanya juga agak sedikit maksa. Temen aku katanya juga pernah ketemu
ibu2 itu di depan Gedung G UNJ, alasannya juga sama minta bantuan untuk nebus
obat suaminya.
Buat temen-temen
yang belum pernah ngalamin kejadian kayak gini hati-hati ya…., jangan mudah
percaya sama orang yang baru dikenal karena kejahatan ada dimana-mana.
~Ganbatte~
Jumat, 05 September 2014
Derek Redmond dan Ayahnya
Baru-baru ini aku lagi seneng searching dan
nonton video-video motivasi, nah diantara video2 yang aku tonto nada
satu yang jadi favoritku yaitu tentang perjuangan Derek Redmond in Olympic
Barcelona 1992, udah lama ya ternyata aku juga belum lahir, hehe…..
Pertama kali aku nonton video ini itu pas lagi kuliah olimpisme,
yap dikuliah inilah aku dicekokin video motivasi tiap hari terutama yang
berhubungan dengan olimpiade dan semangat berprestasi berhubung mata kuliah ini
juga tentang olimpiade, oiy dosen olimpismeku itu namanya Om Jay pasti blogger2
udah pada kenal dong?? Secara Om Jay ini adalah blogger terkenal yang hobi
mencurahkan isi hatinya di dunia maya ini juga. Meskipun aku sudah berkali-kali
nonton tapi aku ngga pernah bosen, why?? Yap karena selain backsoundnya yang enak
didenger juga karena terharu degan perjuangan Derek Redmond yang luar biasa.
Oiya berdasarkan info dari dunia maya ternyata perjuangan Derek Redmond sudah
dibukukan lho dalam novel inspiratif Sepatu Terakhir, aku
belum pernah lihat bukunya sih, ah jadi pengen beli…..
Berikut cerita singkat tentang Derek Redmond
dan Ayahnya….
Selamat membaca J
***
65 ribu lebih pasang mata hadir di stadion itu. Semua hendak
menyaksikan event atletik terbesar di dunia.
Namanya adalah Derek Redmond, seorang atlet pelari olimpiade asala
Inggris. Impian terbesarnya ialah mendapatkan sebuah medali olimpiade, apapun
medalinya. Derek sebenarnya sudah ikut di ajang olimpiade sebelumnya, tahun
1988 di Korea. Namun sayang beberapa saat sebelum bertanding ia cedera sehingga
tidak bisa ikut bertanding. Mau tidak mau, olimpiade ini adalah kesempatan
terbaiknya untuk mewujudkan mimpinya. Ini adalah hari pembuktiannya, untuk
mendapatkan medali di nomor lari 400 meter karena ia dan ayahnya sudah berlatih
sangat keras untuk ini.
Suara pistol pertanda dimulainya perlombaan. Latihan keras yang
dijalani Derek Redmond membuatnya segera unggul melampaui lawan-lawannya.
Dengan cepat ia sudah memimpin hingga meter ke 225. Berarti kurang 175 meter
lagi. Ya, kurang sebentar lagi ia akan mendapatkan medali yang diimpikan selama
ini.
Namun tidak ada yang menyangka ketika justru dipeforma
puncaknya ketika ia sedang memimpin perlombaan tersebut, tiba-tiba ia cedera.
Secara tiba-tiba di meter ke 225 tersebut, timbul rasa sakit luar biasa di kaki
kanannya. Saking sakitnya, seolah kaki tersebut telah ditembak sebuah peluru.
Dan seperti orang yang ditembak kakinya Derek Redmond pun menjadi pincang. Yang
ia lakukan hanya melompat-lompat kecil bertumpu pada kaki kirinya, melambat
lalu rebah di tanah, sakit di kakinya telah menjatuhkannya.
Derek sadar, impiannya memperoleh medali di Olimpiade ini pupus
sudah. Melihat anaknya dalam masalah, Ayahnya yang berada di atas tribun tanpa
berpikr panjang ia segera berlari ke bawah tribun. Tak peduli ia menabrak dan
menginjak sekian banyak orang. Baginya yang terpenting adalah ia harus segera
menolong anaknya.
Di tanah, Derek Redmond menyadari bahwa impiannya memenangkan
olimpiade pupus sudah. Ini sudah kedua kalinya ia berlomba lari di olimpiade,
dan semuanya gagal karena cidera kakinya. Namun, jiwanya bukan jiwa yang mudah
menyerah. Ketika tim medis mendatanginya dengan membawa tandu, ia berkata, “
Aku tak akan naik tandu itu, bagaimanapun juga aku harus menyelesaikan
perlombaan ini”, katanya.
Maka Derek pun secara perlahan mengangkat kakinya sendiri. Dengan
sangat perlahan pula, sambal menahan rasa sakit dikakinya, ia berjalan tertatih
dengan sangat lambat. Tim medis mengira bahwa Derek ingin berjalan sendiri ke
tepi lapangan, namun mereka salah. Derek ingin menuju ke garis finish.
Di saat yang sama pula Jim, Ayah Derek sudah sampai di Tribun
bawah. Ia segera melompati pagar lalu berlari melewati para penjaga menuju
anaknya yang berjalan menyelesaikan perlombaan dengan tertatih kesakitan.
Kepada para penjaga ia hanya berkata, “Itu anakku, dan aku akan menolongnya!”
Akhirnya kurang 120 meter dari garis finish, sang ayah pun samapi
juga di Derek yang menolak menyerah. Derek masih berjalan pincang tertatih dengan
sangat yakin. Sang ayahpun merangkul dan memapah Derek, Ia kalungkan lengan
anaknya tersebut ke bahunya.
“Nak, lebih baik kamu berhenti kamu tidak akan mungkin
memenangkannya”, kata Ayahnya
Tetapi Derek menjawab sebaliknya, “Tidaakkk…aku akan menyelesaikannya
sampai finish”.
“Baiklah kalau begitu kita akan menyelesaikannya bersama-sama”,
kata Ayahnya
Ayah dan anak tersebut dengan saling berangkulan akhirnya samapi
di garis finish. Beberapa langkah dari garis finish, sang ayah, Jim melepaskan
rangkulannya dari anaknya agar Derek dapat melewati garis finish tersebut
seorang diri. Lalu kemudian barulah ia merangkul anaknya lagi.
Derek Redmond tak mendapat medali bahkan ia telah didiskualifikasi
dari perlombaan. Derek mendapatkan standing ovation dari 65.000 lebih penonton
dan lihatlah komentar ayahnya.
“Aku adalah ayah yang paling bangga sedunia! Aku lebih bangga
kepadanya sekarang daripada jika ia mendapatkan medali emas.”
Dua tahun pasca perlombaan lari tersebut, dokter bedah mengatakan
kepada Derek bahwa Derek tak akan lagi dapat mewakili negaranya dalam
perlombaan olahraga.
Namun, tahukah kalian apa yang terjadi??
Lagi-lagi, dengan dorongan dari ayahnya, Derek pun akhirnya
mengalihkan perhatiannya. Dia pun menekuni dunia basket, dan akhirnya menjadi
bagian dari timnas basket Inggris Raya. Kemudian Derek mengirim foto dirinya
bersama tim baskey ke Dokter yang dulu memvonisnya tak akan bisa mewakili
Negara dalam perlombaan olahraga.
“Maybe, he is not the winner. But he is more
than a winner”
~Brandon Kristiano~
Minggu, 31 Agustus 2014
Dilema Murid
Hari
ini seperti biasa aku ngajar privat muridku yang kelas 11 IPS, muridku yang ini
anaknya memang pendiem banget harus dipancing buat ngomong. Seperti biasa
setelah aku jelasin dia aku kasih soal untuk dikerjakan. Ngga tau kenapa
tiba-tiba aku pengen tau mata pelajaran yang dia suka. Jadilah aku nanya ke
muridku itu.
Saya : “X (sebut saja namanya X), pelajaran yang
paling kamu suka apa?”
X : “mmmm…. Apa ya ka? (sambil mikir),
ngga ada ka, hampir semua pelajaran ngga suka.”
Saya : (semakin bingung dan makin kepooo) “serius
ngga ada? Kenapa?”
X : “Gurunya nyebelin semua ka”.
Jlebb banget
dengernya, ngga nyangka dia bakal jawab gitu. Biasanya kalo murid ngga suka
sama pelajaran karena pelajarannya susah. Langsung tambah lagi deh kepoku….
Saya : “emang gurunya kenapa kok nyebelin? Jelasinnya
kecepetan atau gimana?”
X : “Ya gitu ka, aku belum ngerti
tiba-tiba udah lanjut aja, kayaknya temen-temenku juga blum ngerti dan itu
semua pelajaran ka.”
Saya : "Di sekolah kamu sekarng ada guru PPL/PKM kan?"
X : " Iya ada ka, ada ekonomi, kewirausahaan, sama jepang".
saya : " Trus sama guru PPL/PKM ngajarnya gmna? enak ngga?" (berharap jawabannya berbeda).
X : " sama aja ngga enak ka."
saya : (semakin bingung mau nanya apa lagi) "yaudah deh kamu lanjutin aja ngerjain soalnya."
Ini
baru satu murid, mungkin masih banyak murid yang mempunyai dilema yang sama
seperti muridku yang satu ini. Sebagai guru memang penting mengetahui keadaan
muridnya per individu dan harus selalu menanyakan apakah sudah paham atau belum.
Perhatikan murid per individu karena setiap individu (murid) punya masalah
masing-masing yang berbeda-beda, entah itu masalah terkait pelajaran, pergaulan, ataupun yang lainnya, tidak selamanya murid yang diam itu bisa dan tidak selamanya
murid yang bikin ulah itu tidak bisa. Every
child is special.
Ini
merupakan pelajaran berharga bagiku karena kebetulan sekarang aku sedang PKM,
ngajar di sekolah yang jumlah dan sifat-sifat muridnya berbeda dengan ketika
ngajar di bimbel maupun privat. Di sini aku mempunyai murid yang karakternya
bervariasi, ada yang rajin, ada juga yang males untuk mengeluarkan buku
(padahal hanya mengeluarkan buku belum disuruh untuk mengerjakan soal). Mungkin
aku harus bisa mengenal mereka lebih dekat per individu supaya aku tahu masalah
mereka dan bisa mengetahui kenapa mereka seperti itu. Mereka seperti itu (murid
bermasalah) tidak mungkin tanpa sebab, pasti ada yang mendasarinya. Itulah yang
menjadi PR para pendidik termasuk aku.
Semoga
aku bisa menjadi pendidik yang menjadikan mereka anak-anak yang sholeh dan
sholehah, pintar, serta menjadi pendidik yang selalu ada ketika mereka
butuh tempat berbagi.
I want to be a good dan inspiratif teacher.
Senin, 25 Agustus 2014
Tahun ke-6 di Tanah Rantau
~Find
what you want to do and do it~
Ya
ini adalah tahun ke-6 aku jadi anak rantau tepatnya tanggal 8 Juli kemarin, yap
aku mulai pindah ke Jakarta 6 tahun lalu saat tahun ajaran baru karena aku akan
melanjutkan SMA di Jakarta. Sebagai anak rantau aku harus rela meninggalkan
keluarga dan semua kegiatanku di Jepara, termasuk meninggalkan Pesantren.
Di
Jakarta aku punya keluarga kedua, di sini aku tinggal dengan tante aku. Beliau
adalah seorang dosen di salah satu universitas. Di sini aku juga punya dua adek
sepupu yang sudah aku anggap sebagai adekku sendiri. Adek sepupuku yang pertama
sekarang kuliah di UI jurusan teknik sipil angkatan 2014 dan yang kedua sekolah
di SMPN 77 Jakarta kelas VII. Tanteku
itu orangnya sangat2 baik, meskipun agak keras kalau soal peraturan pulang ke
rumah karena tanteku tidak mau terjadi apa2 denganku. Tanteku juga orang yang
pekerja keras dan selalu mengutamakan pendidikan, pokoknya luar biasa deh.
Selain
itu di kota metropolitan ini aku juga punya sahabat2 yang sangat baik, sahabat
yang berjuang bersama di satu organisasi saat SMA, Rohis. Mereka adalah Nabilah
Shalihah saat ini kuliah di UI jurusan Ilmu Komputer, Winda Zulfianti kuliah di
IPB jurusan Statistik, Putri Windiastuti kuliah di universitas dan jurusan yang
sama dengan Winda, Arini kuliah di Kedokteran Trisakti, Ardhana kuliah di UIN
Jakarta, Ita Yuni kuliah di Biologi UI, Siti Aisyah PNJ, Nurjannah Y.R di
UNPAD. Mereka adalah sahabat terbaikku, meskipun kita jarang ketemu karena
berbeda kampus tapi Alhamdulillah komunikasi kami masih cukup baik.
Karena
merekalah aku bisa bertahan sampai saat ini di Jakarta, disamping orang tuaku
dan semua mimpi-mimpiku. Tanpa mereka semua aku tidak akan bisa bertahan sampai
saat ini. I love you so much.
Kamis, 21 Agustus 2014
MOTIVATION FOR ME!!
Menjadi anak rantau tidaklah mudah, banyak suka dan dukanya. Tapi untuk meraih mimpi-mimpiku aku akan terus bertahan sampai aku dapat meraih semuanya. Sebagai anak rantau yang tinggal jauh dari orang tua, tentunya dibutuhkan motivasi dan penyemangat supaya kita tetap bisa bertahan dan bait syair Imam Syafii inilah salah satu penyemangatku.
Biarkanlah hari terus berlari
Tetaplah jadi manusia mulia, apa pun yang terjadi
Janganlah galau dengan tiap kejadian sehari-hari
Karena tak ada yang abadi, semua kan datang dan pergi
Jadilah pemberani melawan rasa takutmu sendiri
Karena lapang dan tulus adalah dirimu sejati
Janganlah pandang hina musuhmu
Karena jika ia menghinamu, itu ujian tersendiri bagimu
Takkan abadi segala suka serta lara
Takkan kekal segala sengsara serta sejahtera
MERANTAULAH.
Gapailah setinggi-tingginya impianmu
BEPERGIANLAH.
Maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji,
serta meluaskan ilmu
Bait syair-syair Imam Syafi’i (767-820 M) > diambil dari novel Rantau 1 Muara, A. Fuadi
Rabu, 20 Agustus 2014
Cerita PKM #5
Senin, 18 Agustus 2014
Pada hari ini saya ke sekolah seperti biasa
pukul 06.00, hari ini tidak ada upacara bendera hari senin karena hari minggu
sudah melaksanakan upacara 17an dan sebagai gantinya diadakan apel pagi. Sebenarnya
hari ini aku ngga ada jadwal ngajar tapi
lagi pengen ke sekolah aja. Daripada nganggur, akhirnya saya bantuin Ditya dan
Siska piket. Tugas piket itu, pagi-pagi kita ngecekin jadwal mapel supaya tidak
bentrok, nyari pengganti guru yang tidak masuk, ngasih tugas ke kelas yang
tidak ada gurunya, dll. Oiya hari ini aku juga jadi guru infal gantiin Pak
Bambang yang lagi izin di kelas 9-7 selama 3 jam.
Selasa, 19 Agustus 2014
Cerita PKM #4 (Upacara 17 Agustus)
Hey, maaf ya kalo postinganku kali ini agak sedikit narsizzz......
tanggal 17 Agustus kemarin aku upacara 17an lagi bukan sebagai siswa tapi sebagai guru (meskipun cuma guru pkm) tapi nga apalah, InsyaAllah 1-2 tahun lagi bisa jadi guru beneran. Amin
sedikit flashback, dulu ketika masih SD dan SMP aku biasanya upacara 17an di lapangan bogoran, jepara. lapangan bogoran itu lapangan terbesar di kecamatan tempatku tinggal, selain dipakai untuk upacara 17an dipakai juga untuk upacara pramuka, kegiatan perkemahan, dll. Biasanya sekolahku selalu kebagian upacara pengibaran bendera, ngga pernah penurunan bendera, jadi harus siap2 kepanasan karena ngga pake tenda, bayangin aja jam 10 berdiri di tengah terik matahari itu rasanya..... beda sama upacara di Istana Negara semuanya pake tenda. meskipun begitu aku selalu menunggu2 untuk ikutan upacara 17an lagi karena bisa ketemu dengan anak-anak dari sekolah lain juga dan dulu pas masih SD kami berangkat ke lapangannya jalan kali bareng2 dari sekolah, lumayan sih sekitar 1 km, meskipun capek tapi itulah yang bikin seruu... selain itu yang paling ditunggu2 pas lagi upacara adalah marching bandnya, keren banget pokoknya.
Ya semenjak aku pindah sekolah ke Jakarta, aku ngga pernah lagi ngerasain yang namanya upacara 17an lagi kayak gitu karena paling upacaranya hanya di sekolah kayak upacara hari senin.
Oiya ini foto2 pas selesai upacara 17an di SMPN 216 Jakarta, tempatku PKM.

tanggal 17 Agustus kemarin aku upacara 17an lagi bukan sebagai siswa tapi sebagai guru (meskipun cuma guru pkm) tapi nga apalah, InsyaAllah 1-2 tahun lagi bisa jadi guru beneran. Amin
sedikit flashback, dulu ketika masih SD dan SMP aku biasanya upacara 17an di lapangan bogoran, jepara. lapangan bogoran itu lapangan terbesar di kecamatan tempatku tinggal, selain dipakai untuk upacara 17an dipakai juga untuk upacara pramuka, kegiatan perkemahan, dll. Biasanya sekolahku selalu kebagian upacara pengibaran bendera, ngga pernah penurunan bendera, jadi harus siap2 kepanasan karena ngga pake tenda, bayangin aja jam 10 berdiri di tengah terik matahari itu rasanya..... beda sama upacara di Istana Negara semuanya pake tenda. meskipun begitu aku selalu menunggu2 untuk ikutan upacara 17an lagi karena bisa ketemu dengan anak-anak dari sekolah lain juga dan dulu pas masih SD kami berangkat ke lapangannya jalan kali bareng2 dari sekolah, lumayan sih sekitar 1 km, meskipun capek tapi itulah yang bikin seruu... selain itu yang paling ditunggu2 pas lagi upacara adalah marching bandnya, keren banget pokoknya.
Ya semenjak aku pindah sekolah ke Jakarta, aku ngga pernah lagi ngerasain yang namanya upacara 17an lagi kayak gitu karena paling upacaranya hanya di sekolah kayak upacara hari senin.
Oiya ini foto2 pas selesai upacara 17an di SMPN 216 Jakarta, tempatku PKM.

Minggu, 17 Agustus 2014
Goresan Tinta Seorang Advokat Kampus
Tulisan ini bukan hasil karyaku, tapi hasil karya anak advokasi UI. Kenapa aku tulis ulang di blogku, alasannya simple supaya tulisan ini tidak hilang dan aku mudah untuk mencarinya, selain itu tulisan ini juga mengingatkanku akan amanah dan tanggungjawab yang aku emban saat ini di Kesma BEM FMIPA UNJ dan ini adalah catatan hati seorang advokat kampus.
Selamat ## Membaca
Semoga dapat mengambil hikmah dati tulisan yang keren ini.
Seringkali kebanyakan dari mahasiswa akan
lebih memilih menjadi yang “terlihat” di kampus. Memilih menjadi sosok
pembicara, sosok atlet, sosok yang rupawan, dan sebagainya. Untuk mencapai
semua itu, segala upaya dilakukan. Segala cara ditempuh dengan sungguh-sungguh.
Ketika mereka telah tuntas dengan segala
pencapaiannya atau bahkan gagal dengan semua itu dan kembali memilih menjadi
mahasiswa biasa tanpa nilai eksistensi, ada kalanya permasalahan tetap datang. Kebutuhan
beasiswa, pembayaran biaya kuliah, system registrasi online yang bermasalah,
hubungan birokrasi administrasi dengan kemahasiswaan, dan banyak lainnya.
Diantaran banyaknya mahasiswa yang memilih
mengejar eksistensi, masih ada sebagian kecil mahasiswa yang memilih berada di belakang
layar. Masih ada mahasiswa yang rela meluangkan waktu dan pikirannya untuk
kepentingan mahasiswa lainnya.
Mereka tidak dibayar. Mereka tidak pernah
berharap dibayar. Mereka hanya didatangi ketika ada masalah. Mereka hanya
dihubungi terkadang untuk dimarahi, sebagai pelampiasan kekecewaan mereka
terhadap sistem yang ada di kampus. Ya, mereka sudah tahu konsekuensi itu,
tetapi mereka memilih menjadi yang tidak terlihat.
Mereka adalah orang-orang yang bergerak
secara tenang. Mereka adalah peredam kepanikan bagi mahasiswa lainnya yang
sudah sedemikian heboh jika ada suatu masalah terkait kemahasiswaan. Mereka kaan
berusaha tenang dan tersenyum, meskipun otaknya berpikir lebih keras, kakinya
berlari lebih cepat, dan pembelaan dihadapan para petinggi kampus terkadang
mendapat tanggapan yang kurang baik.
Bukan. Mereka bukan malaikat. Mereka juga
memiliki masalah, sama seperti kalian. Mereka juga bingung memikirkan beasiswa
yang belum cair ke rekening mereka. Mereka juga bingung memikirkan uang saku
beasiswa yang semakin mennipis untuk kebertahanan kuliah sampai akhir bulan
nanti. Mereka juga memiliki tugas-tigas kuliah yang menumpuk. Sama saja. Ya,
mereka juga mahasiswa sama seperti kalian. Mereka hanya memilih menjadi yang
tak terlihat. Mereka hanya memilih untuk memperjuangkan kalian, meski itu butuh
keberanian. Mereka juga menantikan pencairan uang beasiswa untuk membayar
kulaih. Mereka sama. Mereka juga sama seperti kalian.
Jadi, mengapa harus ada prasangka? Mengapa kita
tidak mencoba untuk berbaiksangka? Kebijakan kampus tetap berada diatas. Mereka
hanya berusaha mengadvokasi, memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan
dan memang layak diperjuangkan. Mungkin sudah seharusnya, kita belajar
mengapresiasi dan melihat dari berbagai sisi. Bahwa bukan hanya kalian yang
mengalami kesulitan, bukan hanya kalian yang mengalami penderitaan. Bukan hanya
kalian. Mereka telah begitu banyak menjadi pendengar bagi setiap keluhan
mahasiswa. Bahkan mereka hafal betul apa yang harus dilakukan bila ada maslah
ini, masalah itu, dan masalah-masalah lainnya. Mereka akan selalu mencoba
menjadi tempat yang nyaman bagimu untuk bercerita. Ya, mereka akan berusaha
memberikan solusi, meski mereka juga memiliki masalah yang mungkin jauh lebih
berat dari kalian. Namun, begitulah mereka. Yang tetap bergerak dalam jangkauan
yang tidak kalian lihat. Mereka hanya diapresiasi ketika hasil advokasi “ itu
dinilai membantu, tanpa ingin tahu seperti apa “proses advokasi” itu
berlangsung. Dan mereka –kami dan teman-teman advokasi Kesejahteraan
Mahasiswalainnya-akan tetap menjadi mahasiswa yang tidak berharap terlihat. Karena
terkadang, ketulusan itu hanya dapat dirasakan dengan hati, bukan dengan
pandangan mata.
(Fadillah Octa, Adkesma BEM FIB UI)
Salam Advokasi
***
Jakarta, Agustus 2014
Label:
Pengetahuan,
Story
Lokasi:
Jakarta, Jakarta, Indonesia
Kamis, 14 Agustus 2014
Cerita PKM #3
Rabu, 13 Agustus 2014
Hari
ini yang dinas ke sekolah hanya Aku, Anis, dan Ratna. Kami sudah sampai di
sekolah pukul 06.20, di sekolah masih
sepi banget hanya ada beberapa guru, mungkin guru-guru yang lain masih pada
kena macet. Tepat pukul 06.30 tanda bel masuk sudah berbunyi, semua siswa pun berkumpul
di lapangan untuk melaksanakan tadarus bersama. Di SMPN 216 setiap hari kecuali
hari senin selalu melaksanakan tadarus bersama di lapangan dengan dipimpin oleh
salah satu siswa yang telah ditunjuk pada hari sebelumnya. Ini adalah salah
satu contoh yang baik bagi sekolah-sekolah yang belum melaksanakan tadarus,
salutt banget deh sama sekolah dan guru-gurunya terutama guru agamanya.
***
Hari
ini kami melaksanaknan observasi di kelas Bu Cia dan Bu Dedeh. Selesai tadarus
kami langsung siap-siap melaksankan observasi di kelas Bu Cia yaitu kelas 8-1
selama 2 jam pelajaran dari pukul 07.15-08.35, selanjutnya pada pukul
09.35-11.35 kami melaksanakan observasi di kelas Bu Dedeh yaitu kelas 8-5. Dari
pengamatan yang saya amati hari ini saya dapat pelajaran bahwa setipa kelas
mempunyai karakter yang berbeda-beda, so kita harus menyiapkan banyak senjata
untuk menanggulanginya supaya jika cara yang satu tidak mempan bisa menggunakan
cara yang lain. Mulai minggu depan aku sudah mulai ngajar di kelas dan aku
dapat bagian di kelas 8-3. Semoga murid-murid yang aku ajar anaknya baik-baik,
penurut, dan tidak bandel.
~Ya
Allah semoga aku bisa menjadi pendidik yang inspiratif, yang dapat menjadikan
mereka anak-anak yang pintar, shalih, dan shalihah~
Langganan:
Postingan (Atom)


































