Senin, 25 Agustus 2014

Tahun ke-6 di Tanah Rantau

~Find what you want to do and do it~
Ya ini adalah tahun ke-6 aku jadi anak rantau tepatnya tanggal 8 Juli kemarin, yap aku mulai pindah ke Jakarta 6 tahun lalu saat tahun ajaran baru karena aku akan melanjutkan SMA di Jakarta. Sebagai anak rantau aku harus rela meninggalkan keluarga dan semua kegiatanku di Jepara, termasuk meninggalkan Pesantren.

Di Jakarta aku punya keluarga kedua, di sini aku tinggal dengan tante aku. Beliau adalah seorang dosen di salah satu universitas. Di sini aku juga punya dua adek sepupu yang sudah aku anggap sebagai adekku sendiri. Adek sepupuku yang pertama sekarang kuliah di UI jurusan teknik sipil angkatan 2014 dan yang kedua sekolah di SMPN  77 Jakarta kelas VII. Tanteku itu orangnya sangat2 baik, meskipun agak keras kalau soal peraturan pulang ke rumah karena tanteku tidak mau terjadi apa2 denganku. Tanteku juga orang yang pekerja keras dan selalu mengutamakan pendidikan, pokoknya luar biasa deh.

Selain itu di kota metropolitan ini aku juga punya sahabat2 yang sangat baik, sahabat yang berjuang bersama di satu organisasi saat SMA, Rohis. Mereka adalah Nabilah Shalihah saat ini kuliah di UI jurusan Ilmu Komputer, Winda Zulfianti kuliah di IPB jurusan Statistik, Putri Windiastuti kuliah di universitas dan jurusan yang sama dengan Winda, Arini kuliah di Kedokteran Trisakti, Ardhana kuliah di UIN Jakarta, Ita Yuni kuliah di Biologi UI, Siti Aisyah PNJ, Nurjannah Y.R di UNPAD. Mereka adalah sahabat terbaikku, meskipun kita jarang ketemu karena berbeda kampus tapi Alhamdulillah komunikasi kami masih cukup baik.


Karena merekalah aku bisa bertahan sampai saat ini di Jakarta, disamping orang tuaku dan semua mimpi-mimpiku. Tanpa mereka semua aku tidak akan bisa bertahan sampai saat ini. I love you so much.

Kamis, 21 Agustus 2014

MOTIVATION FOR ME!!

Menjadi anak rantau tidaklah mudah, banyak suka dan dukanya. Tapi untuk meraih mimpi-mimpiku aku akan terus bertahan sampai aku dapat meraih semuanya. Sebagai anak rantau yang tinggal jauh dari orang tua, tentunya dibutuhkan motivasi dan penyemangat supaya kita tetap bisa bertahan dan bait syair Imam Syafii inilah salah satu penyemangatku.



Biarkanlah hari terus berlari
Tetaplah jadi manusia mulia, apa pun yang terjadi
Janganlah galau dengan tiap kejadian sehari-hari
Karena tak ada yang abadi, semua kan datang dan pergi
Jadilah pemberani melawan rasa takutmu sendiri
Karena lapang dan tulus adalah dirimu sejati
Janganlah pandang hina musuhmu
Karena jika ia menghinamu, itu ujian tersendiri bagimu
Takkan abadi segala suka serta lara
Takkan kekal segala sengsara serta sejahtera

MERANTAULAH
Gapailah setinggi-tingginya impianmu
BEPERGIANLAH
Maka ada lima keutamaan untukmu
Melipur duka dan memulai penghidupan baru
Memperkaya budi, pergaulan yang terpuji,
serta meluaskan ilmu

Bait syair-syair Imam Syafi’i (767-820 M) > diambil dari novel Rantau 1 Muara, A. Fuadi

Rabu, 20 Agustus 2014

Cerita PKM #5

Senin, 18 Agustus 2014


Pada hari ini saya ke sekolah seperti biasa pukul 06.00, hari ini tidak ada upacara bendera hari senin karena hari minggu sudah melaksanakan upacara 17an dan sebagai gantinya diadakan apel pagi. Sebenarnya hari ini aku  ngga ada jadwal ngajar tapi lagi pengen ke sekolah aja. Daripada nganggur, akhirnya saya bantuin Ditya dan Siska piket. Tugas piket itu, pagi-pagi kita ngecekin jadwal mapel supaya tidak bentrok, nyari pengganti guru yang tidak masuk, ngasih tugas ke kelas yang tidak ada gurunya, dll. Oiya hari ini aku juga jadi guru infal gantiin Pak Bambang yang lagi izin di kelas 9-7 selama 3 jam. 

Selasa, 19 Agustus 2014

Cerita PKM #4 (Upacara 17 Agustus)

Hey, maaf ya kalo postinganku kali ini agak sedikit narsizzz......
tanggal 17 Agustus kemarin aku upacara 17an lagi bukan sebagai siswa tapi sebagai guru (meskipun cuma guru pkm) tapi nga apalah, InsyaAllah 1-2 tahun lagi bisa jadi guru beneran. Amin

sedikit flashback, dulu ketika masih SD dan SMP aku biasanya upacara 17an di lapangan bogoran, jepara. lapangan bogoran itu lapangan terbesar di kecamatan tempatku tinggal, selain dipakai untuk upacara 17an dipakai juga untuk upacara pramuka, kegiatan perkemahan, dll. Biasanya sekolahku selalu kebagian upacara pengibaran bendera, ngga pernah penurunan bendera, jadi harus siap2 kepanasan karena ngga pake tenda, bayangin aja jam 10 berdiri di tengah terik matahari itu rasanya..... beda sama upacara di Istana Negara semuanya pake tenda. meskipun begitu aku selalu menunggu2 untuk ikutan upacara 17an lagi karena bisa ketemu dengan anak-anak dari sekolah lain juga dan dulu pas masih SD kami berangkat ke lapangannya jalan kali bareng2 dari sekolah, lumayan sih sekitar 1 km, meskipun capek tapi itulah yang bikin seruu... selain itu yang paling ditunggu2 pas lagi upacara adalah marching bandnya, keren banget pokoknya.
Ya semenjak aku pindah sekolah ke Jakarta, aku ngga pernah lagi ngerasain yang namanya upacara 17an lagi kayak gitu karena paling upacaranya hanya di sekolah kayak upacara hari senin.

Oiya ini foto2 pas selesai upacara 17an di SMPN 216 Jakarta, tempatku PKM.





Minggu, 17 Agustus 2014

Goresan Tinta Seorang Advokat Kampus

Tulisan ini bukan hasil karyaku, tapi hasil karya anak advokasi UI. Kenapa aku tulis ulang di blogku, alasannya simple supaya tulisan ini tidak hilang dan aku mudah untuk mencarinya, selain itu tulisan ini juga mengingatkanku akan amanah dan tanggungjawab yang aku emban saat ini di Kesma BEM FMIPA UNJ dan ini adalah catatan hati seorang advokat kampus. 
                                             Selamat ## Membaca
                    Semoga dapat mengambil hikmah dati tulisan yang keren ini.

Seringkali kebanyakan dari mahasiswa akan lebih memilih menjadi yang “terlihat” di kampus. Memilih menjadi sosok pembicara, sosok atlet, sosok yang rupawan, dan sebagainya. Untuk mencapai semua itu, segala upaya dilakukan. Segala cara ditempuh dengan sungguh-sungguh.

Ketika mereka telah tuntas dengan segala pencapaiannya atau bahkan gagal dengan semua itu dan kembali memilih menjadi mahasiswa biasa tanpa nilai eksistensi, ada kalanya permasalahan tetap datang. Kebutuhan beasiswa, pembayaran biaya kuliah, system registrasi online yang bermasalah, hubungan birokrasi administrasi dengan kemahasiswaan, dan banyak lainnya.

Diantaran banyaknya mahasiswa yang memilih mengejar eksistensi, masih ada sebagian kecil mahasiswa yang memilih berada di belakang layar. Masih ada mahasiswa yang rela meluangkan waktu dan pikirannya untuk kepentingan mahasiswa lainnya.

Mereka tidak dibayar. Mereka tidak pernah berharap dibayar. Mereka hanya didatangi ketika ada masalah. Mereka hanya dihubungi terkadang untuk dimarahi, sebagai pelampiasan kekecewaan mereka terhadap sistem yang ada di kampus. Ya, mereka sudah tahu konsekuensi itu, tetapi mereka memilih menjadi yang tidak terlihat.

Mereka adalah orang-orang yang bergerak secara tenang. Mereka adalah peredam kepanikan bagi mahasiswa lainnya yang sudah sedemikian heboh jika ada suatu masalah terkait kemahasiswaan. Mereka kaan berusaha tenang dan tersenyum, meskipun otaknya berpikir lebih keras, kakinya berlari lebih cepat, dan pembelaan dihadapan para petinggi kampus terkadang mendapat tanggapan yang kurang baik.

Bukan. Mereka bukan malaikat. Mereka juga memiliki masalah, sama seperti kalian. Mereka juga bingung memikirkan beasiswa yang belum cair ke rekening mereka. Mereka juga bingung memikirkan uang saku beasiswa yang semakin mennipis untuk kebertahanan kuliah sampai akhir bulan nanti. Mereka juga memiliki tugas-tigas kuliah yang menumpuk. Sama saja. Ya, mereka juga mahasiswa sama seperti kalian. Mereka hanya memilih menjadi yang tak terlihat. Mereka hanya memilih untuk memperjuangkan kalian, meski itu butuh keberanian. Mereka juga menantikan pencairan uang beasiswa untuk membayar kulaih. Mereka sama. Mereka juga sama seperti kalian.

Jadi, mengapa harus ada prasangka? Mengapa kita tidak mencoba untuk berbaiksangka? Kebijakan kampus tetap berada diatas. Mereka hanya berusaha mengadvokasi, memperjuangkan apa yang seharusnya diperjuangkan dan memang layak diperjuangkan. Mungkin sudah seharusnya, kita belajar mengapresiasi dan melihat dari berbagai sisi. Bahwa bukan hanya kalian yang mengalami kesulitan, bukan hanya kalian yang mengalami penderitaan. Bukan hanya kalian. Mereka telah begitu banyak menjadi pendengar bagi setiap keluhan mahasiswa. Bahkan mereka hafal betul apa yang harus dilakukan bila ada maslah ini, masalah itu, dan masalah-masalah lainnya. Mereka akan selalu mencoba menjadi tempat yang nyaman bagimu untuk bercerita. Ya, mereka akan berusaha memberikan solusi, meski mereka juga memiliki masalah yang mungkin jauh lebih berat dari kalian. Namun, begitulah mereka. Yang tetap bergerak dalam jangkauan yang tidak kalian lihat. Mereka hanya diapresiasi ketika hasil advokasi “ itu dinilai membantu, tanpa ingin tahu seperti apa “proses advokasi” itu berlangsung. Dan mereka –kami dan teman-teman advokasi Kesejahteraan Mahasiswalainnya-akan tetap menjadi mahasiswa yang tidak berharap terlihat. Karena terkadang, ketulusan itu hanya dapat dirasakan dengan hati, bukan dengan pandangan mata. 

(Fadillah Octa, Adkesma BEM FIB UI)
Salam Advokasi
***

Jakarta, Agustus 2014

Kamis, 14 Agustus 2014

Cerita PKM #3

Rabu, 13 Agustus 2014

Hari ini yang dinas ke sekolah hanya Aku, Anis, dan Ratna. Kami sudah sampai di sekolah  pukul 06.20, di sekolah masih sepi banget hanya ada beberapa guru, mungkin guru-guru yang lain masih pada kena macet. Tepat pukul 06.30 tanda bel masuk sudah berbunyi, semua siswa pun berkumpul di lapangan untuk melaksanakan tadarus bersama. Di SMPN 216 setiap hari kecuali hari senin selalu melaksanakan tadarus bersama di lapangan dengan dipimpin oleh salah satu siswa yang telah ditunjuk pada hari sebelumnya. Ini adalah salah satu contoh yang baik bagi sekolah-sekolah yang belum melaksanakan tadarus, salutt banget deh sama sekolah dan guru-gurunya terutama guru agamanya.
                                                                           ***
Hari ini kami melaksanaknan observasi di kelas Bu Cia dan Bu Dedeh. Selesai tadarus kami langsung siap-siap melaksankan observasi di kelas Bu Cia yaitu kelas 8-1 selama 2 jam pelajaran dari pukul 07.15-08.35, selanjutnya pada pukul 09.35-11.35 kami melaksanakan observasi di kelas Bu Dedeh yaitu kelas 8-5. Dari pengamatan yang saya amati hari ini saya dapat pelajaran bahwa setipa kelas mempunyai karakter yang berbeda-beda, so kita harus menyiapkan banyak senjata untuk menanggulanginya supaya jika cara yang satu tidak mempan bisa menggunakan cara yang lain. Mulai minggu depan aku sudah mulai ngajar di kelas dan aku dapat bagian di kelas 8-3. Semoga murid-murid yang aku ajar anaknya baik-baik, penurut, dan tidak bandel.


~Ya Allah semoga aku bisa menjadi pendidik yang inspiratif, yang dapat menjadikan mereka anak-anak yang pintar, shalih, dan shalihah~

Rabu, 13 Agustus 2014

Cara Mencari NISN

Kali ini aku akan memposting cara mencari NISN kita, mudah memang tapi semoga ini bisa membantu teman-teman semua. sebelumnya siapkan terlebih dahulu Nama lengkap dan ttl. berikut langkah-langkahnya
1. buka link ini 














2. klik pencarian berdasarkan nama
















3. Tuliskan nama Anda















4. Tuliskan tempat lahir Anda
















5. Tulis tanggal lahir Anda

















6. kemudian klik cari

selamat mencoba :)